Sebelum Berdiri Menghadap Allah, Kenali Dahulu Siapa yang Kita Sembah

oleh -88 Dilihat
ILUSTRASI: Tulisan basmallah. (Foto: SS-Mutho)
banner 468x60

Ada sesuatu yang menarik dari cara Syekh Nawawi al-Bantani menyusun penjelasan kitab-kitab ibadahnya. Syekh Nawawi tidak buru-buru membawa pembaca masuk ke soal teknis: mana rukun, mana sunnah, mana yang membatalkan.

Dalam Fathul Mujib, kitab bertema manasik haji, kita pernah menjumpai Syekh Nawawi membuka pembahasan dengan kisah-kisah yang sepintas terasa “jauh” dari haji: gerbang Fir‘aun dan sakitnya Nabi Musa عليه السلام. Rupanya Syekh Nawawi hendak menyiapkan hati sebelum kaki berjalan menuju Baitullah.

banner 336x280

Luncurkan Hotline Pengaduan, Menhaj: Bagian Ikhtiar Memberikan Perlindungan Jamaah

Dalam Sullam al-Munājāt, syarah Safīnah al-Shalāh yang khusus berbicara tentang shalat, pola yang sama muncul dengan cara berbeda. Baru sampaiبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, Syekh Nawawi justru mengajak pembacanya masuk ke pembahasan Asmā’ Allah. Teks Sullam al-Munājāt memang mengklasifikasikan nama-nama Allah menjadi empat: asmā’ al-dzāt, asmā’ al-shifāt, asmā’ al-tanzīh, dan asmā’ al-af‘āl.

Mengapa kitab shalat dimulai dari sini? Barangkali pesannya sederhana tetapi mendasar: sebelum belajar bagaimana menyembah Allah, manusia perlu terlebih dahulu mengenal siapa Allah yang disembahnya.

Syekh Nawawi memulai dengan kaidah:

اِعْلَمْ أَنَّ أَسْمَاءَ اللهِ تَعَالَى لَا تَثْبُتُ إِلَّا بِنَصٍّ أَوْ إِجْمَاعٍ عَلَى الصَّحِيْحِ

’’Ketahuilah, bahwa nama-nama Allah Ta‘ala—menurut pendapat yang sahih—tidak ditetapkan kecuali berdasarkan nash atau ijmak.” Kalimat pendek ini sesungguhnya membangun worldview seorang mukmin.

 

Allah tidak didefinisikan sesuka manusia. Kita mengenal-Nya sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya melalui wahyu. Akal bekerja sangat penting: memahami, menimbang, menyusun argumentasi dan membuktikan. Tetapi akal tidak duduk sebagai “pencipta Tuhan” menurut selera zamannya. Ini sangat relevan hari ini. Kita hidup pada masa ketika hampir segala sesuatu ingin dibuat sesuai preferensi pribadi: “Menurut saya Tuhan mestinya begini”, “Kalau menurut logika saya Allah seharusnya begitu.”

Khazanah kalam mengajari kerendahan hati intelektual: iman bukan membuat Tuhan sesuai keinginan kita, tetapi membentuk diri agar tunduk kepada kebenaran-Nya.

Di pesantren kita kadang belajar sifat Allah dengan sangat tekun: sifat wajib, mustahil, jaiz; sifat nafsiyyah, salbiyyah, ma‘ani, dan ma‘nawiyyah. Itu penting. Tetapi pekerjaan berikutnya jauh lebih besar: membawa akidah dari kepala turun menjadi akhlak. Percaya Allah al-‘Ālim mestinya melahirkan kejujuran.

Respons Komnas Haji soal Usulan BPIH 2027

Percaya Allah al-Razzāq mestinya mengurangi kerakusan dan menguatkan ikhtiar yang halal. Percaya Allah al-Malik mestinya mengikis kesombongan jabatan. Percaya Allah al-Qādir membuat kita tidak gampang putus asa. Menghayati al-Quddūs mengajari kita membersihkan hati. Mengimani Allah sebagai al-Khāliq membuat kita lebih hormat kepada sesama ciptaan-Nya. Maka pembahasan Asmā’ Allah bukan katalog nama-nama indah untuk dihafalkan. Ia adalah cara memandang seluruh kehidupan.

Mengapa Syekh Nawawi membawa pembicaraan teologis sedalam ini di awal kitab yang membahas shalat? Jawabannya mungkin justru berada dalam kata shalat itu sendiri. Orang bisa menguasai seluruh rincian fikih shalat: tahu syarat, rukun, sunnah, pembatal, bacaan dan gerakannya. Tetapi kalau ia tidak mengenal siapa yang sedang ia hadapi, shalat mudah berubah menjadi rutinitas tubuh.

Syekh Nawawi seolah mengingatkan sejak halaman pertama. Sebelum belajar berdiri di hadapan Allah, benahi dahulu cara kita mengenal Allah. Karena shalat bukan sekadar apa yang dilakukan tubuh, melainkan kepada siapa seluruh diri sedang menghadap.

Penyelenggaraan Haji Tak Hanya Diukur dari Keberhasilan Operasional

Di Fathul Mujib, sebelum mengajak manusia berjalan menuju Baitullah, Syekh Nawawi menghadirkan hikayat yang mengguncang kesadaran tentang ketuhanan dan kelemahan manusia.

 

Di Sullam al-Munājāt, sebelum mengajari manusia berdiri, rukuk dan sujud, Syekh Nawawi membawa kita kepada Bismillah dan Asmā’ Allah. Dua kitab, dua ibadah, tetapi satu pendidikan rohani. Fikih jangan sampai memisahkan gerakan dari Tuhan yang dituju oleh gerakan itu.

Dan barangkali di situlah relevansi Syekh Nawawi al-Bantani untuk manusia modern. Kita tidak kekurangan informasi agama. Yang sering kurang adalah kemampuan mengubah informasi menjadi cara melihat dunia. Sebab, orang yang sungguh mengenal Allah semestinya tidak hanya semakin benar akidahnya.

Bentuk Gugus Tugas, Perkuat Ekosistem Ekonomi Haji dan Pariwisata

Ia juga semakin jujur ketika sendirian, rendah hati ketika berhasil, tenang ketika rezeki sempit, tidak mudah merendahkan orang lain, kuat ketika diuji, dan semakin khusyuk ketika berdiri mengucapkan بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. Karena pada akhirnya, mengenal Asmā’ Allah bukan hanya belajar bagaimana berbicara tentang Allah. Ia adalah belajar bagaimana hidup di hadapan Allah.

 

 

Muhammad Robi, Pengasuh Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah Pelamunan, Kabupaten Serang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.