Ketika Rabbul Alamin Dibaca dari Langit yang Terus Terbuka

oleh -146 Dilihat
ILUSTRASI: Langit merupakan salah satu ciptaan Allah. (Foto: Freepik-Magnific)
banner 468x60

Kita membaca al-Fatihah setiap hari. Bahkan berkali-kali dalam sehari. Tetapi boleh jadi karena terlalu akrab, kalimat yang luar biasa dahsyat itu lewat begitu saja: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .“Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.”

Pertanyaannya: seberapa luas al-‘alamin yang terbayang di kepala kita ketika mengucapkannya? Bumi? Langit? Matahari dan bulan? Bintang-bintang yang tampak pada malam hari? Syekh Nawawi al-Bantani dalam Bahjatul Wasā’il membawa pembacanya jauh melampaui imajinasi keseharian itu. Ketika menjelaskan رَبِّ الْعَالَمِينَ, Syekh Nawawi menukil: ’’Dikatakan: Allah menciptakan seratus ribu alam.”

banner 336x280

Lalu disebutkan sebuah riwayat kosmologis: “Diriwayatkan bahwa Allah Ta‘ala menciptakan seratus ribu qindīl dan menggantungkannya pada Arasy.” Lebih menggetarkan lagi: “Langit, bumi beserta seluruh isinya, surga dan neraka, semuanya berada dalam satu qindīl.” Kemudian: “Tidak seorang pun mengetahui apa yang terdapat dalam qindīl-qindīl lainnya kecuali Allah Ta‘ala.”

Keterangan ini tentu bukan buku teks astronomi. Kita juga tidak perlu memaksakan qindīl dalam khazanah Syekh Nawawi sebagai galaksi, gugus galaksi, multiverse, atau objek astronomis tertentu. Bahkan penggunaan ungkapan قيل—“dikatakan”—dan روي—“diriwayatkan”—mengingatkan kita untuk tidak menjadikannya sebagai data saintifik yang pasti.

Namun pesan teologisnya terasa sangat kuat. Jangan pernah menyangka bahwa apa yang telah diketahui manusia adalah seluruh ciptaan Allah. Menariknya, perkembangan astronomi modern justru semakin mengajarkan kerendahan hati semacam itu.

Niat Umrah dan Haji


Teleskop Semakin Canggih, Manusia Justru Semakin Kecil

Dahulu manusia memandang langit hanya dengan mata telanjang. Sekarang instrumen kita mampu menangkap cahaya yang telah mengembara lebih dari 13 miliar tahun. James Webb Space Telescope, misalnya, telah mengonfirmasi galaksi MoM-z14 pada redshift 14,44. Kita melihat galaksi tersebut sebagaimana keadaannya ketika alam semesta baru berusia sekitar 280 juta tahun setelah Big Bang. Cahaya MoM-z14 telah menempuh perjalanan lebih dari 13 miliar tahun sebelum mencapai teleskop kita (NASA, Webb Early Universe/MoM-z14, 2025–2026).

Bayangkan. Ketika melihat objek yang sangat jauh di langit, manusia sesungguhnya sedang melihat masa lalu. Memandang jauh ke ruang angkasa sekaligus berarti memandang jauh ke belakang dalam sejarah kosmos. Yang lebih mencengangkan, MoM-z14 ternyata lebih terang, lebih kompak, dan lebih kaya secara kimiawi daripada yang diperkirakan astronom untuk galaksi pada zaman sedini itu (NASA, James Webb Space Telescope, MoM-z14).

Artinya, semakin jauh kita melihat, tidak selalu semakin banyak persoalan yang selesai. Kadang justru semakin banyak pertanyaan baru yang lahir. Seakan setiap kali manusia membuka satu jendela langit, di belakangnya ditemukan pintu-pintu lain yang belum pernah dibuka.

Di sinilah kalimat yang dikutip Syekh Nawawi terasa hidup: وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ … إِلَّا اللَّهُ تَعَالَى “Tidak seorang pun mengetahui… kecuali Allah Ta‘ala.” Bukan berarti manusia dilarang mencari tahu. Justru carilah! Terbangkan teleskop. Hitung orbit. Pelajari spektrum cahaya. Petakan galaksi. Selidiki materi gelap dan energi gelap. Kejar pertanyaan sampai sejauh kemampuan akal manusia. Tetapi setelah semuanya, milikilah kerendahan hati intelektual untuk mengakui ternyata wilayah yang belum kita ketahui masih luar biasa luas.

 

Sebelum Berdiri Menghadap Allah, Kenali Dahulu Siapa yang Kita Sembah

Satu Galaksi Saja Belum Selesai Kita Kenali

Kita tinggal di galaksi bima sakti. Tetapi rumah kosmik kita sendiri belum selesai dipetakan. Pada Juni 2026, European Space Agency merilis citra pusat bima sakti hasil pengamatan teleskop ruang angkasa Euclid. ESA menyebutnya sebagai foto beresolusi tinggi terbesar yang pernah dibuat terhadap pusat bima sakti dalam cahaya tampak. Dalam satu citra itu saja terpetakan lebih dari 60 juta bintang (ESA, Euclid, 24 Juni 2026).

Enam puluh juta bintang. Dan itu bukan seluruh alam semesta. Bahkan bukan seluruh bima sakti. Itu baru sebuah survei kawasan pusat satu galaksi. Lalu arahkan teleskop lebih jauh. Pada rilis data pertamanya pada Maret 2025, Euclid hanya membutuhkan sekitar satu minggu pengamatan terhadap tiga wilayah deep field untuk mendeteksi sekitar 26 juta galaksi, sebagian berada hingga sekitar 10,5 miliar tahun cahaya dari kita (ESA, Euclid First Survey Data Release, 19 Maret 2025).

Padahal misi Euclid sendiri dirancang untuk mengamati miliaran galaksi, memetakan sekitar sepertiga langit, dan membantu manusia memahami struktur besar alam semesta, termasuk misteri materi gelap dan energi gelap (ESA, Euclid Mission).

 

Kalau satu galaksi dapat berisi jumlah bintang yang luar biasa, sementara teleskop kita telah mendeteksi jutaan galaksi hanya dari sebagian kecil langit, rasanya kata: رَبِّ الْعَالَمِينَ mendadak menjadi jauh lebih besar daripada ketika kita membacanya terburu-buru.

Berabad-abad manusia bertanya-tanya, apakah ada dunia lain yang mengelilingi bintang selain matahari? Sekarang jawabannya semakin jelas. NASA mencatat lebih dari 6.200 exoplanet—planet di luar tata surya kita—telah dikonfirmasi keberadaannya. Selain itu masih terdapat ribuan kandidat planet yang menunggu observasi lanjutan untuk memastikan statusnya (NASA Exoplanet Archive/NASA Science, data diakses 2026).

James Webb menemukan bukti yang menantang gambaran klasik mengenai bagaimana lubang hitam supermasif terbentuk. Pada Mei 2026, NASA mengumumkan hasil pengamatan objek Abell2744-QSO1. Data Webb memberikan bukti bahwa setidaknya sebagian lubang hitam supermasif di alam semesta awal dapat terbentuk dalam keadaan sudah sangat besar, tanpa harus melalui skenario sederhana berupa bintang yang runtuh terlebih dahulu kemudian bertumbuh perlahan di dalam galaksi besar. Peneliti Roberto Maiolino bahkan menyebut temuan itu sebagai perubahan paradigma terhadap skenario klasik pembentukan dan pertumbuhan lubang hitam (NASA, James Webb Space Telescope, 27 Mei 2026).

 

Untuk objek tersebut, Webb juga memungkinkan pengukuran langsung massa lubang hitam pada masa kurang dari satu miliar tahun setelah awal alam semesta—sebuah capaian observasional yang sebelumnya sangat sulit dilakukan (NASA/ESA/CSA, Webb NIRSpec, 2026).

 

Pada Juli 2026, ESA mengumumkan bahwa Euclid menemukan 31 quasar sangat purba. Dua yang terjauh bersinar ketika usia alam semesta baru sekitar 670 juta tahun, atau kira-kira lima persen dari usianya sekarang. Cahaya kedua quasar purba itu diperkirakan setara dengan satu triliun Matahari (ESA, Euclid, 6 Juli 2026).

Setelah membawa pembaca kepada gambaran keluasan ciptaan, Syekh Nawawi tidak berhenti pada rasa takjub. Syekh Nawawi menulis:
سُمِّيَ الْخَلْقُ بِالْعَالَمِ لِكَوْنِهِ عَلَمًا عَلَى حُدُوثِهِ وَافْتِقَارِهِ إِلَى مُوجِدٍ قَدِيمٍ
“Makhluk disebut al-‘alam karena keberadaannya menjadi tanda atas kebaruannya dan kebutuhannya kepada Sang Pengada Yang Qadim.”

 

Inilah mutiara Kalam Asy‘ariyyah yang tersembunyi di balik tafsir hamdalah. Alam bukan Tuhan. Alam adalah tanda menuju Tuhan. Bintang adalah tanda. Atom adalah tanda. Galaksi adalah tanda. Exoplanet adalah tanda. Bahkan lubang hitam yang membuat teori astrofisika harus ditinjau ulang tetaplah sebuah ‘alamah.

Dalam bahasa ilmu kalam, seluruh alam adalah ḥadits dan muftaqir: ia tidak menjadi sebab bagi keberadaan dirinya sendiri. Ia membutuhkan:
مُوجِدٍ قَدِيمٍ. ’’Sang Pengada Yang Qadim’’.

 

 

Di sinilah astronomi dan tauhid dapat berdialog dengan sehat. Syekh Nawawi tidak sedang menulis astrofisika. James Webb pun bukan instrumen untuk menguji kitab kalam. Pertemuan keduanya justru lebih indah. Sains memperluas apa yang mampu kita lihat. Tauhid mengajari bagaimana kita memaknai apa yang kita lihat.

 

Syekh Nawawi mengajari kita agar kekaguman tidak berhenti pada objek. Dari takjub kepada makhluk, naiklah menuju pujian kepada khaliq. Mungkin inilah yang layak kita sebut kosmos hamdalah. Semakin luas alam yang tersingkap, semakin dalam makna: الْحَمْدُ لِلَّهِ , semakin banyak dunia yang diketahui, semakin terasa: رَبِّ الْعَالَمِينَ . Dia Rabb bagi segala yang kita lihat. Rabb bagi yang baru berhasil kita deteksi. Rabb bagi cahaya yang baru sampai kepada instrumen manusia setelah mengembara miliaran tahun. Dan Rabb bagi ciptaan yang mungkin belum pernah masuk ke dalam imajinasi kita.

 

Doa Meninggalkan Madinah

Kosmologi Seharusnya Membuat Kita Rendah Hati

Bima sakti hanyalah salah satu galaksi di tengah keluasan kosmos yang terus kita pelajari. Lalu di atas titik kecil bernama bumi, manusia masih sempat membusungkan dada karena jabatan, merendahkan sesama karena kekayaan, bertengkar karena merasa paling besar, bahkan merasa telah mengetahui segala sesuatu setelah membaca beberapa buku.

Semakin jauh teleskop mampu melihat, semestinya semakin dalam kepala kita menunduk. Semakin canggih ilmu manusia, semakin jernih pula kita membedakan dua hal: betapa menakjubkannya pengetahuan manusia—dan betapa terbatasnya manusia yang mengetahui.

 

Syekh Nawawi telah mengajari kita sejak hamdalah. Alam bukan sekadar ruang untuk ditempati. Alam adalah ayat untuk dibaca. Barangkali pada saat itulah hamdalah tidak lagi sekadar bacaan di bibir. Ia berubah menjadi worldview. Ilmu membuat mata kita semakin jauh memandang. Kalam membuat akal memahami ke mana pandangan itu bermuara. Iman membuat hati tahu kepada siapa seluruh kekaguman harus dipersembahkan. Maka semakin jauh manusia menjelajahi langit, jangan sampai ia semakin jauh dari Allah. Justru semakin terbuka kosmos, semakin pantas kita menundukkan kepala dan mengucapkannya kembali—kali ini dengan rasa yang berbeda:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Muhammad Robi, Pengasuh Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah Pelamunan, Kabupaten Serang

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.