Mendidik Berarti Membangun Peradaban

oleh -38 Dilihat
ILUSTRASI: Pendidikan merupakan proses pengalihan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu. (Foto: Ist)
banner 468x60

PENDIDIKAN merupakan proses pengalihan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak mengerti sesuatu menjadi memahami sesuatu. Dalam bahasa Islam, minadzulumati ilannur; dari kegelapan menuju terang benderang. Pendidikan juga dapat dipahami sebagai perubahan sosial dan kesadaran.

Oleh karena itu, bagi masyarakat terdidik sebagai masyarakat pembelajar dengan sendirinya akan tercerahkan dan mengubah alam di sekitarnya (transformation knowledge dan social change).

banner 336x280

Makna pendidikan yang hakiki adalah tumbuhnya kesadaran dan pemahaman terhadap proses kehidupan yakni kehidupan yang terus menerus berubah untuk lebih baik. Maka, memaknai proses perubahan dunia yang dinamis dan konstruktif itulah disebut peradaban. Terbangunnya struktur masyarakat yang memiliki tarap pendidikan yang baik akan memunculkan transformasi sosial dan tatanan masyarakat yang baik.

Pendidikan menjadi sebuah budaya dan pendidikan menjadi pilar utama pembangunan menuju peradaban dunia. Bagaimana dengan pendidikan dan para pendidik di zaman global saat ini? Adakah proses transformasi budaya dalam pendidikan masih berlangsung?  Dan bagaimana pula peran pendidik dalam proses pengajaran dan kehidupan?

Adakah mereka mampu menjadi pemantik api menumbuhkan potensi dan membangun kesadaran siswa atau hanya sekadar menjadi pengajar yang meminjam istilah Gramschi, sosiolog Inggris, sebagai intelektual organik sang intelektual yang hanya memberi pengetahuan tanpa nilai dan moral, intelektual yang hanya menyampaikan pengetahuan tapi tidak inspiratif.

Mengenang tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, penulis ingin menyebut guru dengan G besar: “Guru”. Tak cuma profesional, mahir mengajar, namun dapat menjadi “guru kehidupan” bagi anak-anak kita. Tafsiran Ki Hajar inilah secara filosofis sebagai guru yang inspiratif dan dapat membangun juga mengubah kehidupan masyarakat seperti juga saat itu.

Menjadi guru adalah sebuah pengabdian, sebuah keterpanggilan. Tak hanya terampil mengajar, namun juga memahami filosofi dan kultur mendidik, sehingga mampu membentuk anak didik menjadi manusia yang cerdas, bertakwa, berakhlak mulia. Tujuan akhirnya, mengutip Muchtar Bukhori, pakar pendidikan, generasi mendatang adalah generasi yang mampu menghidupi dirinya. Mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna di tengah persaingan serta akhirnya terlibat dalam memuliakan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Pendidikan di Indonesia kini adalah harapan bagi anak-anak kita esok. Guru adalah fasilitator dan ujung tombak pendidikan dan peradaban bangsa. Para founding father bangsa ini pun berangkat dari “guru” yang mengajari anak-anak bangsa dari kebodohan. Guru yang penggerak, aktif, dan kreatif, tentunya akan dapat menuntun anak-anak kita menjadi warga bangsa yang kompetitif, namun mempunyai moral value.

Saatnya kini kita melihat tenaga pendidik dengan kacamata baru, paradigma guru yang berpikiran local wisdom dan global. Di tengah-tengah persaingan globalisasi dan teknologi cyber IA (kecerdasan buatan), guru yang mampu belajar dan mengajar dengan hati. Betapapun carut-marutnya bangsa ini, kita (baca; guru) tidak boleh berhenti untuk selalu mendidik anak bangsa ke gerbang cita-cita mereka dan cita-cita peradaban Indonesia yang lebih baik.

Masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus kita selesaikan. Setumpuk harapan dan asa tertambat di pundak sang guru. Namun, perlahan tapi pasti, tentu dengan semangat bahwa mengajar dan mendidik bukan untuk ’’digaji’’ semata, tapi hanya karena Allah subhanahu wata’ala. Niat ikhlas ini ujung tombak semangat kita untuk mengajar dan mengubah tatanan masyarakat yang beradab dan tidak bisa digantikan dengan nilai material. Mendidik berarti membangun peradaban. The last but not the lest (yang terakhir namun tak kalah penting), berhentilah mencaci maki kegelapan. Lebih baik kau nyalakan secercah harapan bagi mereka yang kegelapan.

Komaruzaman, Mudirul Ma’had Al Itqon, Kabupaten Tangerang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *