Wapres Ke-13: Momentum Halalbihalal sebagai Bahan Refleksi

oleh -26 Dilihat
SILATURAHMI: Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama menggelar halalbihalal di Jakarta, Ahad (12/4/2026) malam. (Foto: Dok MA IPNU))
banner 468x60

Hajidanumrah-Wakil Presiden (Wapres) ke-13 Ma’ruf Amin mengatakan, momentum halalbihalal sebagai bahan refleksi. Baik untuk personal maupun secara organisasi.’’Dari sisi keorganisasian, momentum halalbihalal ini merupakan jalan untuk saling memaafkan dan merajut kembali ukhuwah antar-sesama manusia yang sebelumnya pernah ternoda oleh kesalahan dan kekhilafan yang diperbuat,’’ ujarnya saat Halalbihalal Majelis Alumni (MA) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Jakarta, Ahad (12/4/2026) malam.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu lalu menjelaskan, tugas manusia sebagai khalifatullah fil ardh dalam rangka beribadah kepada Allah serta memakmurkan bumi. ’’Allah mengatakan, Dialah yang menjadikan kamu dari tanah dan meminta kamu, yaitu tanggung jawab untuk memakmurkan bumi. Sebab, memakmurkan bumi merupakan bagian daripada tugas khalifah,” jelasnya seperti dalam rilis.

banner 336x280

Kiai Ma’ruf juga mengingatkan agar istikamah menjaga segala hal baik yang telah dianugerahkan Allah dan tidak melakukan tindakan yang merusak. ’’Artinya menjaga yang ada jangan sampai kita merusak. Kemudian menambah kebaikannya dengan melakukan transformasi dan melakukan inovasi,” terangnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Presidium Pusat Majelis Alumni IPNU H Asrorun Niam Sholeh menyampaikan, halalbihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum untuk “mempertautkan hati” demi menjaga dan mempererat hubungan antarsesama. ’’Perbedaan pilihan, afiliasi, maupun pandangan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Dengan bertemu dan bersilaturahim, minimal kita bisa membangun kesepahaman, meskipun belum tentu langsung mencapai kesepakatan,’’ tutur katib syuriah PBNU itu.

Niam juga menekankan, dalam kehidupan berorganisasi, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), seluruh elemen harus tetap berpegang pada prinsip dasar yang telah diwariskan para pendiri, yang termaktub dalam Muqaddimah Qanun Asasi. ’’Prinsip tersebut mencakup komitmen persatuan dan persaudaraan, memegang ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, pentingnya sanad keilmuan, keikhlasan dalam berkhidmat, serta tanggung jawab menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,’’ terangnya.

Menurutnya, perubahan zaman menuntut adanya adaptasi. Namun, tidak boleh menggeser nilai-nilai fundamental organisasi. ’’Kita harus mampu membedakan mana yang prinsip dasar yang tidak boleh berubah, dan mana yang bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman,’’ tegas ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Fatwa itu.

Acara bertajuk Meneguhkan Ukhuwah, Menyatukan Langkah tersebut juga  dihadiri Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Wakil Ketua Badan Amil Zakat Nasional Zainut Tauhid Sa’adi, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, dan Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah Puji Raharjo.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *