Resep Berkembang Pesatnya Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto

oleh -109 Dilihat
HADIR: Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Asep Saifuddin (tengah) saat Halaqah Pendidikan dan Bedah Buku Kiai Miliarder tapi Dermawan di Gedung Graha Aswaja PCNU Tangsel, Ciputat, Tangsel, Banten, Ahad (17/5/2026). (Foto: Mutho/hajidanumrah)
banner 468x60

hajidanumrah.id-Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Asep Saifuddin Chalim berbagi kunci berkembang pesat lembaga pendidikan yang dirintisnya.’’Saya berasal dari orang yang tidak punya apa-apa, pernah jadi kuli bangunan, pernah melamar tukang parkir dan buruh pabrik. Kuncinya, apa?,’’ ujar Kiai Asep—sapaan Asep Saifuddin Chalim– saat Halaqah Pendidikan dan Bedah Buku Kiai Miliarder tapi Dermawan di Gedung Graha Aswaja PCNU Tangerang Selatan (Tangsel), Ciputat, Tangsel, Banten, Ahad (17/5/2026).

Menurut pria yang menyabet doktor dan profesor itu, pertama adalah ketakwaan.’’Allah akan memberi jalan keluar kesulitan dan memberi rezeki yang tidak disangka bagi hamba yang takwa. Dengan ketakwaan, seseorang akan cerdas bisa menangkap peluang,’’ kata ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

banner 336x280

Kedua, istigfar atau minta ampun kepada Allah. Dia pun mengutip rujukan yang intinya menyebutkan, barang siapa yang banyak membaca istigfar, kesulitannya akan ada jalan keluar dan diberikan limpahkan rezeki yang tidak diduga.’’Istigfar itu menyesali dan tidak mengulangi dosa yang telah diperbuat. Dengan ini, seseorang akan dikasih kecerdasan dan dapat menangkap peluang,’’ imbuh putra Pahlawan Nasional KH Abdul Halim itu.

Ketiga, lanjutnya, bersyukur lalu tawakal. Jaminan bagi yang tawakal, hatinya lepas setelah melakukan kerja keras dan optimistis dalam hidupnya.’’Kemudian silaturahim dan menebar kebaikan. Saya gemar silaturahim dan harus pulang kampung setiap Lebaran,’’ tambah pria yang pada 2022 mempunyai tanah sekitar 100 hektare yang harganya di atas Rp 500 miliar itu.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah bersedekah. Sebab, di antara pembuka rezeki adalah sedekah.’’Tahadduts binni’mat (menyampaikan nikmat), dari 1996, sudah berangkat haji lebih dari 30 kali. Mungkin juga karena sering kali menghendel hal-hal berat. Rezeki disesuaikan kadar pembelanjaannya. Harus yakin, inti semuanya adalah takwa,’’ terang pria yang lahir di Plered, Cirebon, Jawa Barat, pada 16 Juli 1955 itu.

Kunci lainnya adalah doa dan memperbaiki makanan. Dia mengistikamahkan melaksanakan Shalat Hajat sebanyak 12 rakaat dengan 6 kali salam. ’’Shalat Hajat, doa yang tidak ditolak,’’ ucap bapak sembilan anak tersebut.

Suami dari Alif Fadlilah itu bercerita saat memulai mendirikan pesantren di Pacet, Mojokerto pada 2016.’’Katanya tempat angker. Saya beli tanah, karena pasti murah. Masih sepi. Kini sudah ramai,’’ tambah pria yang mempunyai bisnis di antaranya pabrik tempe dan tahu, air mineral, roti, penggemukan sapi, produksi pupuk, dan pertanian sayur, tersebut.

Hadir dalam acara yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tangsel dan Pengurus Cabang (PC) Pergunu Tangsel itu di antaranya sejumlah pengurus PP Pergunu, PC Pergunu Tangsel yang dinakhodai Ali Mudasir, akademisi, pengurus dan warga NU.

Tampak juga Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Tholabi Kharlie dan Imam Subchi serta M Mas’ud Adnan. Adnan merupakan penulis Buku Kiai Miliarder tapi Dermawan. Buku setebal 520 halaman yang sudah cetak kali kedelapan itu merupakan catatan jurnalistik M Mas’ud Adnan terhadap Asep.

Sekadar diketahui, Pesantren Amanatul Ummah mulai dirintis Asep di Surabaya, Jawa Timur. Pada perjalanan selanjutnya, berkembang di Mojokerto, tepatnya di Pacet. Pesantren yang mempunyai belasasn ribu santri ini tak hanya punya sekolah atau madrasah bertaraf internasional. Tapi, kampus dari S1 hingga S3. (mth)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *